Sejarah Desa Masaran kiranya tidak akan terlalu jauh  lepas dari sejarah Kerajaan Pacangan. Kata Masaran sendiri berasal dari kata Pasaran...

SEJARAH MASARAN

/
0 Comments
Sejarah Desa Masaran kiranya tidak akan terlalu jauh  lepas dari sejarah Kerajaan Pacangan. Kata Masaran sendiri berasal dari kata Pasaran/pasar. Dimana pada masa itu, Desa Masaran digambarkan sebagai pasar besar Kerajaan  (tempat berkumpulnya para saudagar/pedangan). Tidak nampak jelas bagaimana sejarah pasar besar itu, karena memang Masaran dan Pacangan menjadi satu kesatuan utuh wilayah Kerajaan. Menurut salah satu sumber yang telah diwawancarai tetapnya di Dusun Nyantren, Desa Masaran merupakan salah satu tempat pertapaan Raja Pacangan yakni bernama Abidarba. Kebanyakan sesepuh Desa yang ditemui lebih paham mengenai sejarah Kejaraan Pacangan dari pada fokus ke Pasaran/Desa Masaran sendiri. Para sesepuh Desa lebih tertarik membahas mengenai hubungan antara Pacangan dan Pulau Mandangin.
Pada saat itu Kerajaan Pacangan dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Bidarba, dengan selirnya yang  kecantikanya begitu tersohor yakni Ratu Ragapadmi. Dikarenakan adanya kecemburuan perasaan dan iri akhirnya sang Ratu pertama memutuskan untuk menyihir kecantikan Ratu Ragapadmi dengan ilmu hitam. Rencana yang telah dicanangkan oleh sang selir lama sang Raja akhirnya membuahkan hasil, disekujur tubuh Ratu padmi dipenuhi oleh nanah dan darah yang berbau tak sedap hingga Raja bidarba pun tak sampai hati melihatnya.
Untuk menghindari penyebaran berita tersebut dikalangan masyarakat/rakyat luas akhirnya  Raja Bidarba mengambil inisiatif untuk mengasingkan Ratu Padmi tentunya tanpa diketahui oleh masyarakat luas. Akhirnya keputusan yang diambil oleh Raja Abidarba adalah  mengutus patih kepercayaannya Bangsa care untuk mengasingkan Ragapadmi.
Atas titah sang Raja, Bangsacara akhirnya mengasingkan Ratu padmi. Sebagai imbalan dari pengasingan tersebut adalah Bangsacara berhak untuk menikahi Ratu padmi baik dalam keadaan sembuh atau masih sakit. Meskipun demikian, dalam hati Bangsacara tentu saja masih ada batas-batas tertentu antara dia dengan Ragapadmi, dimana bagaimana pun Ragapadmi masih menjadi istri sah Raja Bidarba.
Akhirnya Bangsacara membawa Ratu Padmi menuju ke rumah Ibundanya di Tanjung (Desa dekat pantai di Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang). Diperjalanan keadaan Ragapadmi tak kunjung membaik malah tambah memburuk. Nanah bercampur dengan darah berbau amis selalu keluar dari permukaan kulit Ragapadmi. Namun, Bangsacara tetap setia menemani Ragapadmi karena titah sang Raja.
Hari demi hari terus berganti, akhirnya Ragapadmi dan Bangsacara sampai ditempat tujuan. Ibunda Bangsacara sangat ramah menyambut anaknya yang membawa seorang perempuan berpenyakit kulit mengeringakan yang tidak lain adalah Ragapadmi. Ibunda Bangsacara awalnya keberatan, namun setelah mengetahui bahwasannya itu adalah sang Ratu, akhirnya ibu Bangsacara menerimanya. Karena kesabaran dan kesetiaannya Ratu padmi sedikit demi sedikit menaruh hati ke Bangsacara.
Setelah mengasingkan Ratu padmi akhirnya Bangsacara kembali ke Kerajaan Pacangan. Karena tersebar Desas desus mengenai kondisi Ratu Padmi dan pernikahan sang Ratu dengan Bangsacara, akhirnya sang Raja Bidarba memerintahkan Bangsacara untuk mengatakan kepada masyarakat Kerajaan Pacangan bahwa Raja Bidarba tidak mengasingkan Ragapadmi dan Bangsacara tidak menikah dengan Ragapadmi. Meskipun hal ini di luar batas kebenaran, demi membela kehormatan Kerajaan, Bangsacara bersedia melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja dengan mengatakan kepada masyarakat bahwa Ragapadmi hanya sekedar melakukan semedi di daerah jauh yang sepi dari kerumuanan orang banyak, dan hal tersebut berdasarkan permintaan Ragapadmi sendiri, sedangkan Bangsacara hanya bertugas sebagai pengawal sang permaisuri saja. Berkat deklarasi dari Bangsacara, masyarakat kembali percaya kepada Raja Bidarba dan menyelamatkan kemuliaan istana.
Bangsacara memperoleh imbalan dari Raja berkat kesetiaan yang dilakuaknnya kepada Kerajaan dan membela kehormatan Kerajaan dengan menaikkan peran Bangsa cari sebagai panglima utama pasukan perang Kerajaan Pacangan dan menggantikan kedudukan Bangsapatih. Hal ini tentu membuat Bangsapatih geram dengan tindakan Bangsacara yang semena-semena mengambil pangkat Bangsapatih, padahal pada kenyataannya Raja Bidarbalah yang memberikan jabatan itu kepada Bangsacara karena dianggap sebagai oarang yang pantas memimpin pasukan prajurit Pacangan.
Pada suatu hari ketika Bangsacara pulang ke rumah ibundanya. Tiba-tiba seorang perempuan berparas cantik keluar dari dalam rumah dan menampakkan senyumnya serta menyambut Bangsacara dengan lembut dan senyuman yang menawan. Dalam hati Bangsacara berdesis baru kali dia menemukan gadis yang sangat cantik rupawan.
Bangsacara berkata kepada Ragapadmi : “Permaisuri menjadi sangat cantik lagi sekarang. Hamba harus membawa Permaisuri kembali ke istana. Baginda tentu akan senang Permaisuri datang kembali ke sana”. Namun, Ragapadmi justru menjawab : “ Tidak, Baginda telah memberikan aku kepadamu dan menyuruhmu menjadikanku sebagai isterimu”.
Mungkin selama ini tanpa disadari, Bangsacara telah jatuh hati kepada Ragapadmi namun masih di dipendamnya, mengingat Ragapadmi masih berstatus sebagai isteri Rajanya. Namun dengan jawaban Ragapadmi seperti itu akhirnya keraguannya mencair. Dan lalu keduanya memutuskan menikah dan hidup bahagia disalah satu Desa di Pulau Mandangin.
Karena Bangsacara lama tidak menghadap, Rajapun yang menjadi khawatir dan lantas mengutus Bangsapati ke rumah Bangsacara. Bangsapati terkejut melihat Ragapadmi yang telah cantik kembali bahkan lebih cantik dari kecantikan semula. Lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa Bangsacara telah menikah dengan Ragapadmi.
Karena merasa iri dengan Bangsacara, akhirnya Bangsapati melakukan segala cara untuk membunuh patih Bangsacara. Salah satunya adalah memfitnah Raja bahwasana sang Raja memerintahkannya (Bangsapati) untuk membunuh patih Bangsacara.
Akhirnya diajaklah Bangsacara ketepi pantau oleh Bangsapati untuk dibunuh, namun karena kehebatannya, patih Bangsacara sulit untuk dibunuh.
Mengingat itu titah sang Raja, akhirnya Bangsacara berkata: tidak ada manusia yang tidak bisa mati, semua manusia pasti mati. Lalu patih Bangsacara tersebut memperlihatkan senjatanya (gaman). Dan berkata;
“kalau kalian ingin membunuhku pakalah senjata (gaman) ku ini”
Namun disela-sela proses eksekusi tersebut terjadi perdebatan karena patih Bangsapati berubah fikiran. Tetapi karena kesetiaan Bangsacara kepada sang Raja akhirnya Bangsacara membuka senjatanya (gaman). Dan akhirnya secara tidak sengaja Bangsacara tertusuk senjatanya sendiri dan terapung di lautan.
Setelah Bangsacara meninggal akhirnya patih Bangsapati membawa lari Ratu patmi dengan menyebrangi lautan untuk dibawa ke Kerajaan. Di pertengahan jalan Bangsapati akhirnya mati karena memiliki fikiran kotor kepada Ratu Padmi, jasadnya ditemukan terapung di tengah lautan, namun jasad Ratu padmi hilang tidak ditemukan.
Suatu hari, seorang pedagang yang juga seorang saudagar kelapa menemukan mayat terapung yakni sang patih Bangsacara. Terkejut dengan jasat yang ia temukan, kemudian sang saudagar bimbang antara menguburkannya atau menjual dagangannya. Karena tidak mempunyai biaya serta dagangnnya belum laku akhirnya sang pedagang memutuskan untuk menjual kelapanya terlebih dahulu tanpa mengangkut mayat tersebut sembari berjanji kalau dagangnnya laku dia akan kembali dan menguburkan mayat tersebut. Sampai di pasar akhirnya batok kelapanya laku semua, pedagang kembali untuk menguburkan mayat Bangsacara.
Dalam perjalanan lanjutannya ke Kerajaan Pacangan, sang Saudagar lalu bercerita kepada sang Raja tentang mayat yang telah ia kubur. Betapa terkejutnya sang Raja bahwa mayat itu adalah mayat Bangsacara. Dimana sampai sekarang air tempat matinya sang patih tersebut sangat jernih hingga meskipun jarum diceburkan ke air tersebur jarum tetap terlihat.
Karena Raja Abidarba tidak percaya dengan berita tersebut maka sang Raja pergi ke tempat tinggal sang patih Bangsacara dan Ratu Patmi. Disana karena mengetahi patih bangsacara tewas akhirnya sang Raja Abidarba memutuskan menancapkan tongkatnya dan akhirnya mengenggelamkan dirinya lautan.


You may also like

Tidak ada komentar:

Blog Archive

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *